Postingan

Kisah Ketika Suluh Indonesia Menulis Berita Yang Menyinggung Sukarno

Jakarta - Terkenal sebagai media professional Sukarno, namun tak selamanya Sulindo manut kepada Si Bung Besar. Presiden Sukarno dikenal sangat akrab dengan para wartawan. Keakraban itu diperlihatkannya dengan selalu mengadakan sarapan pagi khusus bersama beberapa wartawan dari berbagai koran terkemuka. Satya Graha dari Suluh Indonesia (Sulindo) adalah salah satunya. "Saya ingat waktunya setiap hari Rabu pagi. Jam 7 kita harus sudah ada di meja makan Istana,"ungkap lelaki kelahiran Blitar pada 5 Agustus 1931 itu. Sekitar awal 1954, Satya seperti biasa mendapatkan undangan sarapan dari Presiden Sukarno. Pagi betul dia sudah berada di gerbang Istana Merdeka. Namun baru saja dia memasuki pintu, tiba-tiba seseorang memanggilnya. Ternyata Kolonel Sugandhi, ajudan pribadi Sukarno. "Hai, kau dari Sulindo kan?"tanya Sugandhi. "Iya betul, Mas. Memang kenapa?" "Apa yang kalian lakukan kepada, Bapak?!"tanyanya dalam nada geram. Awalnya S...

Kisah Cerita Ketika Seorang Agen CIA Yang Berhasil Memasuki Istana Pada Masa Sukarno

Jakarta - Kegandrungan Bung Karno kepada perempuan cantik dimanfaatkan telik sandi Amerika untuk masuk Istana Merdeka. Tiba-tiba saja Istana Merdeka berubah menjadi lebih bergairah. Berbagai kegiatan seni digiatkan terutama pertunjukan tari. Bukan rahasia lagi jika pada pertengahan 1965 itu, perhatian Presiden Sukarno tengah tertuju kepada seorang mahasiswi Amerika Serikat yang mengaku tengah meneliti kebudayaan Jawa di Indonesia. "Namanya Pat Price,"ungkap Willem Oltman dalam bukunya Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati? Selain cerdas dan intelek, Pat merupakan seorang perempuan yang sempurna secara fisik. Bukan hanya orang-orang biasa yang ada di Istana saja yang mengatakan itu, namun juga seorang Guntur Sukarnoputra pun mengakui kecantikan dan kemolekan gadis Amerika tersebut. "... Kulitnya kuning, hidung mancung, mata biru semu hitam, rambut hitam kecoklat-coklatan pekat, bibir merekah merah jambu ... Dengan tinggi yang semampai (kira-kira)...

Sebuah Amanat Soekarno Kepada Ibrahim

Jakarta - RATUSAN foto hitam-putih milik almarhum Letnan Jenderal (Purn) Ibrahim Adjie itu berbicara banyak. Dari foto-foto tersebut, nampak tersua bukti betapa dekatnya hubungan antara Presiden Sukarno dengan Panglima Kodam Siliwangi ke-9 itu. Rata-rata foto Adjie dengan Sukarno memperlihatkan mereka tengah tertawa gembira atau sedang berdiskusi serius. "Hubungan antara Papi dengan Bung Karno itu sudah seperti anak dengan bapak saja,"ungkap Bondol Ismail Adjie (74 ), putra tertua Ibrahim Adjie. Salah satu bukti kongkret kepercayaan Sukarno kepada Adjie adalah surat yang berisi amanat dari sang presiden yang dikirimkan tiga hari usai Gerakan 30 September beraksi. Selain Adjie, dalam surat berkop "Adjudan Presiden" itu, Bung Karno pun menyebut juga nama Marsekal Muda (Udara) R.H.A. Wiriadinata, Inspektur Jenderal Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia (Mabes AURI). Anakda I. Adjie, Kodam VI Harap kerdja-sama sebaik-baiknya dengan sdr.Wiriadi...

Kisah Cinta Rara Oyi yang di Perebutkan Oleh Anak dan Ayah Raja Mataram

thelittlebabylove.blogspot.com -  Saat Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Amangkurat I, hiduplah seorang gadis bernama Rara Oyi Waktu itu sang raja baru saja kehilangan permaisurinya, Ratu Mas Malang, yang meninggal diduga karena diracuni orang-orang di sekitarnya. Sejak pertama kali bertemu Oyi, Amangkurat I langsung ingin menjadikannya permaisuri. Namun pada waktu itu sang gadis baru berusia 11 tahun dan terlalu kecil untuk dipinang. Oleh karena itu Amangkurat I meminta salah seorang mantrinya, Ngabei Wirareja , untuk mengurus sang gadis hingga remaja. Singkat cerita, Rara Oyi tumbuh remaja. Namun bukannya menjaga diri dari laki-laki lain demi menjadi permaisuri Amangkurat I, dia justru jatuh cinta pada Pangeran Anom, yang tak lain merupakan putra sang raja itu sendiri. Dari sinilah kekacauan dimulai. Pangeran Anom Jatuh Cinta pada Rara Oyi. Sejak pertama kali bertemu, Pangeran Anom memang langsung jatuh cinta pada Rara Oyi. Bahkan dalam bukunya yang berjudul "Babad Tanah Jaw...

Kisah Keruntuhannya Pabrik Raja Kretek Kudus, Akibat Dampak Perang Dunia ke 2

Jakarta - Selama periode awal hingga pertengahan abad ke-20 tepatnya pada tahun 1918 hingga 1934, industri rokok kretek Tjap Bal Tiga milik Raja Kretek Kudus, Nitisemito, mencapai puncak kejayaan. Saat itu pabrik rokok miliknya menjadi yang terbesar se-Indonesia. Produk-produk rokok miliknya tersebar luas ke seluruh penjuru Nusantara bahkan hingga ke negeri Belanda. Bahkan karena besarnya usaha miliknya Nitisemito, dia sanggup mempekerjakan belasan ribu karyawan di pabriknya hingga menyewa sebuah pesawat Fokker F-200 untuk mempromosikan rokok kretek-nya. Namun mulai tahun 1939, pabrik rokok Tjap Bal Tiga mulai mengalami kemunduran secara perlahan hingga usaha itu bangkrut. Lantas faktor apa saja yang menyebabkan bisnis besar milik Sang Raja Kretek itu akhirnya harus berhenti? Berikut selengkapnya: Kebingungan Memilih Penerus Dalam bukunya yang berjudul "Raja Kretek; M. Nitisemito", Erlangga Ibrahim dan Syahrizal Budi Putranto menyebut bahwa Nitisemito yang ing...

Mengenal Gulat Okol, Sebuah Tradisi Unik Khas Surabaya Yang Mirip Sumo

Jakarta - Gulat memang menjadi salah satu olahraga yang identik dengan Jepang. Tapi enggak hanya di Negeri Sakura, kamu juga bisa menemukan olahraga unik ini di Surabaya, Jawa Timur, lho. Ialah Gulat Okol, olahraga tradisional khas Surabaya ini memang sekilas mirip sumo di Jepang. Bukan sekadar olahraga, ternyata ada nilai-nilai tradisi yang terkandung di dalamnya. Mengutip laman disparbud.gresikkab.go.id, Gulat Okol merupakan salah satu rangkaian dari pelaksanaan sedekah bumi yang digelar masyarakat Kelurahan Made, Kecamatan Sambikerep, Kota Surabaya. Gulat Okol menjadi agenda rutin tahunan dan menjadi bagian dari wisata budaya. Ritual gulat ini awalnya dilaksanakan di area persawahan. Namun, kini Gulat Okol digelar di panggung dengan matras dari karung goni yang pada bagian bawahnya diletakkan jerami demi keamanan. Field gulat sendiri memiliki ukuran 6 meter x 8 meter, dibuat seperti ring tinju dengan dua sudut, di sekeliling panggung diberi tali tambang besar. Olah...

Ziarah Dan Melihat Keunikan Warna-warni Makam Dari Desa Balongdowo Sidoarjo

Jakarta - Makam, tempat peristirahatan terakhir manusia lekat dengan kesan menyeramkan dan angker. Beberapa orang merasa takut melewati makam saat hari mulai gelap atau bahkan tengah hari. Melihat nisan-nisan yang tersusun dan harum bunga kamboja yang khas. Tetapi beda dengan makam di Desa Balongdowo, Sidoarjo, Jawa Timur ini. Jauh dari kesan seram, makam di desa ini justru terlihat berwarna-warni. Batu nisa dicat dengan warna-warna cerah seperti merah, kuning, hijau, biru, merah jambu dan warna-warna lainnya. Tak hanya makamnya saja yang dipoles, namun juga pohon-pohon kamboja yang berada di location pemakaman ini. Dari kejauhan nampak batang-batang pohon kamboja tak lagi berwarna coklat, namun dipoles dengan warna-warna cerah yang ceria. Ziarah ke makam warna-warni ini word play here tak membuat bulu kuduk merinding karena takut. Pemandangan unik lainnya juga berada di tanah makam. Seluruh areal tanah makam ini di lapisi cangkang kerang sehingga tanah terlihat putih...